Second Chance

MY DIARY [074] Second Chance

Sepi sekali pagi ini, biasanya jam segini banyak anak-anak sekolah belanja di warung kami ini. Sambil menunggu datangnya pembeli, aku pun merapikan dagangan dan bersih-bersih menggunakan kemoceng. Semoga hari ini diberi rejeki. Biasanya mama yang jaga warung, cuma hari ini mama harus belanja barang sehingga aku harus menggantikannya.
***
Namaku Fenny, aku baru beberapa bulan pindah ke sini bersama mamaku, Yully. Di sini lah kami mulai menata hidup baru kami. Kami bersyukur masih diberi kesempatan untuk memulai hidup baru. Aku dan mama mempunyai kehidupan yang sangat berat di masa lalu. Kami bekerja sebagai wanita penghibur untuk membiayai hidup kami sehari-hari.
Mungkin sudah setahun lebih kami meninggalkan kehidupan itu. Aku dan mama mulai mencari nafkah halal, banyak rintangan yang kami hadapi, seperti berpindah-pindah karena mencari kontrakan. Untunglah belakangan ini aku dan mama mendapatkan kontrakan murah di sini, walaupun perkampungan yang termasuk kumuh, namun di sini ramai, warung kami paling tidak dapat menutupi biaya hidup kami.
***
“Selamat pagi…”, tiba-tiba terdengar sapaan seorang pria di depan warung. Pria berbadan tegak besar dan berkulit hitam itu terlihat seperti tukang kredit karena membawa tas selempang besar. “Iya, pagi… Ada yang bisa dibantu?”, jawabku dengab senyum manis menyapanya. “Warung Bu Yully ya?”, tanyanya. “Oh iya pak, betul, ada apa ya pak?”, tanyaku.
“Maaf, saya Arif dari koperasi Taman Langit…”, ia memperkenalkan diri sambil memberikan kartu namanya. “Ooh, mau tagih ya? Tunggu bentar ya, mama lagi keluar”, kataku sambil mengambilkan segelas air mineral kemasan untuknya. “Duduk lah bang…”, aku mempersilahkan.
“Biasanya bang Agus yang nagih”, kataku. “Si Agus sakit ci, dah dua hari gak masuk”, kata pria itu. “Ooh”, kamipun mulai berbincang-bincang sambil menunggu mama pulang. Namun jam baru menunjukkan pukul 08:15, mama mungkin agak lama, karena biasanya jam 9 lewat baru pulang. “Kalau sibuk, entar siang saja abang balik sini…”, kataku. “Wah, pas jalur sini sih ci, kalau cabut, entar saya gak balik sini lagi…”, jawabnya.
Aku tidak tahu di mana mama siapkan uang untuk bayar kredit koperasi. Sedangkan di laci hanya ada recehan kecil yang jumlahnya tidak cukup untuk membayar tagihan. Aku juga risih melihat pria bernama Arif ini, walaupun mulutnya manis dan suka bercanda namun matanya suka melihat bagian dadaku. Mana sepi, tumben-tumbennya tidak ada pembeli.
***
“Sepertinya saya pernah ketemu kamu deh…”, katanya. “Ah, perasaan abang saja… Saya baru kok di sini…”, jawabku. Dia masih berpikir-pikir, mungkin pernah bertemu denganku di mana.
***
“Waduh, mamanya masih lama gak ya?”, tanya Arif sang kolektor koperasi, “Coba telpon saja ci…”, pinta dia. “Mama gak bawa hp bang…”, jawabku. “Cuma seratus dua puluh ribu doang bah…”, cetus sang kolektor yang sudah mulai bosan menunggu. “Ga cukup bang, ini saya cuma punya recehan, total-total pun cuma tiga puluhan ribuan doang…”, jawabku sambil menunjukkan isi laci. “Kalau bulan ini gak bayar, bulan depan dah kena denda loh…”, lanjutnya ketus. “Uang dibawa mama buat belanja, emang abang mau nih saya bayar pake duit receh semua?”, tanyaku kesal.
***
Suasana yang tadinya masih enak senda gurau menjadi panas ketika sang kolektor ini mulai bosan menunggu. Tampaknya dia tidak karuan menunggu, jemarinya terus memain di atas meja. Aku pun terpaksa memberinya segelas air mineral lagi karena yang tadi sudah habis. “Rokok ke-lima dah nih, bentar lagi saya cabut ya ci”, katanya. “Tunggu bentar lagi dong bang, mama pasti gak lama bah”, aku juga risih sebenarnya, namun kalau dia tidak mendapatkan tagihannya artinya kami akan membayar denda di bulan depannya.
***
“Hmmm…”, dia melihat lagi kearahku dengan mimik wajah sedang berpikir, “Aku baru ingat nih…”, katanya lalu dengan senyum lebar ia melanjutkan, “Kalau gak salah namamu Fenny kan?”, aneh, kok dia bisa tahu namaku, padahal perasaan tadi aku tidak memperkenalkan namaku.
“Hahaha, baru ingat saya nih, kamu Fenny yang dulu kerja di tempat pijat plus-plus kan?”, tanyanya sontak membuat aku kaget, cepat-cepat kulihat sekeliling, semoga tidak ada warga yang lewat dan mendengarnya. “Maaf, jangan sembarangan ngomong ya!”, aku coba berpura-pura tidak mengenalnya.
“Ah, ci jangan pura-pura hilang ingatan deh… Saya cuma lupa nama panti pijatnya… Cuma saya ingat, nama cici Fenny, terus mama cici juga kerja sana dengan nama Yully…”, katanya membuatku entah harus berbuat apa. “Dulu saya langganan di sana ci, jadi jangan berlagak bego deh, kalau gak salah yang jaga namanya Satorman…”, lanjutnya. Sial, kalau ketahuan warga di sini, bisa-bisa kami kena usir.
“Jadi apa maunya abang?!”, aku menegaskan untuk tidak macam-macam. “Hahahahaha, bayar hutangnya saja ci, saya malas harus tunggu lama, jalur saya jauh nih…”, katanya. “Saya kan sudah bilang, saya gak punya uang bang!”, kesal sekali aku menghadapi orang seperti ini. “Ya sudah, kalau tidak mau…”, jawabnya sambil tersenyum licik seperti ada sesuatu yang direncanakannya. “Bulan depan aja bang, kita bayar sama denda-dendanya”, jawabku.
Aku masih melirik di luar, takut ada warga yang mendengar percakapan kami. “Kalau belum bisa bayar, ngomong saja ci, gampang kok…”, pria itu mulai menggertak. “Jadi mau nya apa?”, tanyaku. “Bayar sekarang atau saya laporin ke Pak RT!”, katanya yang langsung membuatku down. Aku tidak mungkin membiarkannya membuat hidup kami berantakan lagi, aku tidak mau mama terseret lagi dalam kesusahan, di sini kami sudah mulai membangun hidup baru, aku tak mungkin menghancurkannya.
“Eits, saya tidak mau pulang dengan tangan kosong, cuma seratus dua puluh ribu kok…”, katanya. Dia lalu senyam-senyum sambil melihat buah dadaku. “Gini saja ci, ci punya duit berapa?”, tanya nya. “Cuma tiga puluh ribu!”, jawabku. “Saya terima tiga puluh ribunya, sisanya saya talangin, tapi ci sercive saya…”, katanya. “Maaf bang, saya sudah tobat!”, jawabku.
“Ya sudah tak apa, cuma itu yang bisa saya bantu”, katanya dengan sedikit nada mengancam yang tidak menyenangkan. Kulihat jam masih pukul 08:55, mama belum pulang juga. Aku juga tidak mau melibatkan mama, aku harus selesaikan segera permasalahan ini.
“Tapi sisanya kan cuma sembilan puluh ribu!”, kataku coba untuk nego. Wajar, bayaran saya dahulu bekerja saja berlipar-lipat, tak mungkin saya menerima tawarannya ini hanya untuk harga sembilan puluh ribu. “Gampang, ci cuma blow job doang kok, hehehehe”, jawabnya dengan senyum mesumnya itu. “Tapi ini terakhir, aku sudah tobat, kalau kamu macam-macam, saya teriak”, kataku menegaskan.
***
Aku terpaksa menuruti kemauannya. Sambil melirik kanan kiri, aku tutup toko, lalu ku ajak pria bernama Arif itu masuk ke rumah. Waktu tidak banyak, aku tidak mau mama sampai pulang duluan atau kepergok warga. Aku langsung membawanya ke kamar. Arif tidak sabaran juga, ia langsung saja memelukku dan mencoba menciumi bibirku. Aku menolaknya, “Hentikan! Atau aku teriak!”, ancamku. “Sudah perjanjian, aku cuma blowjob!!!”, lanjutku. Pria itu langsung tersenyum, “Sama aja lah, mulut nyentuh mulut sama nyentuh penis, hahahaha”, ejeknya.
Aku hanya bisa memandangnya jutek. Pria itu langsung saja memplorotkan celana jeans tebalnya dan melepaskan celana dalam putihnya yang nampak kumal, menguning, entah berapa hari tidak ganti. Penisnya terpampang jelas, besar, hitam, penuh urat, dihiasi bulu disekitarnya yang lebat. “Masa ci Fenny lupa sama penis saya ini?”, ejeknya. Aku tidak pernah mau ingat mengenai pelangganku dulu, bagiku mereka hanya pria busuk hidung belang yang penuh dosa, dasar pria mesum.
***
Aku tidak mau menghabiskan waktuku hanya untuk dia mengejekku. Sebelum mama pulang, sebaiknya ini segera diselesaikan. Lalu ku dorong ia mendekati ranjang, hingga jatuh terbaring. Aku dahulu memang bekerja begini, bagiku pekerjaan ini tidak asing lagi, namun saja sudah lama kutinggalkan. “Ganas nya gak berubah, hahaha”, ejeknya.
Aku langsung saja naik juga ke ranjang, dan duduk di dekat kemaluannya. Ku pegangi penisnya itu lalu perlahan ku kocok. Sial, ini malah mengingatkanku pada masa-masa kelam ku dulu. Kenapa ini masih harus terjadi? Apakah aku tidak diberi kesempatan untuk berubah. Padahal aku ingin sekali berjalan di jalan yang lurus. Aku dan mama sudah berusaha keras untuk menjauhi dunia seperti ini, kenapa kami masih dipersulit?
***
Aku belum mau menyepong penisnya, karena aku sedikit jijik. Penisnya besar sekali, dan bau pesing. Jijik jika harus ku masukkan ke mulutku. Aku hanya mengocoknya dengan tanganku, dengan cepat agar dia segera ejakulasi sebelum dia minta masukkan ke mulutku. “Oh… Tanganmu masih selembut yang dulu…”, gombalnya. Pria itu terlihat menikmatinya, ia terbaring tanpa gerak, dengan tangan dan kaki membuka lebar, membiarkan aku mengocok penisnya.
“Sejak kalian tutup, saya jadi jajan tempat lain, susah cari amoy atau cewek-cewek muda”, katanya. Aku tidak mau mendengarnya, biar saja dia ngomong sendiri, tak ada gunanya aku meladeni omongannya.
***
Beberapa menit, pria itu tak kunjung berejakulasi, tanda-tanda mau klimaks pun tak nampak. Malah pria ini mulai bosan, “Loh, sepongin dongg….”, perintahnya. Aku masih jijik, namun pria ini sudah tidak sabaran, ia tegakkan tubuhnya untuk meraik rambutku, “Mana janjinya!”, ia langsung saja menarik kepalaku hingga menyentuh penisnya. Aku pun terpaksa memasukkan penisnya ke dalam mulutku.
“Nah gitu dong”, katanya lalu kembali merebahkan badan. “Hueekkk….”, bau benar penisnya, sudah gitu, besar dan panjang lagi, menusuk sampai ke kerongkonganku. Aku tidak mampu sepertinya diperlakukan begini. Bulu-bulunya pun bau, tepat mengenai hidungku. Namun apa boleh buat, harus kupaksakan agar segera menyudahi semua ini.
“Seponganmu rada lemah, gak sesemangat dulu ya…”, protesnya. Ya iyalah, yang ini benar-benar busuk, kayak bangkai, pikirku dalam hati. Kalau tak terpaksa, aku tak mungkin melakukan ini. Aku terpaksa menjilati penisnya yang bau pesing itu hingga basah dengan air liur ku. Penisnya yang tadinya bau pesing kini tercium bau liur, lebih baikin seperti ini daripada harus bau pesing.
***
“Ooh.. “, kudengar pria itu nendesah kenikmatan akibat seponganku. Kaki sudah mulai direnggangkan, artinya pria ini sudah mulai mencapai puncak klimaks. Ku percepat irama seponganku agar pria ini bisa segera berejakulasi. “Ah… Ah…”, desahnya.
Sial, tiba-tiba saja pria itu langsung menahan kepalaku, ia benamkan penisnya dalam-dalam, dan ia mulai menyemprotkan spermanya masuk hingga kekerongkonganku. “Nikmat…..”, katanya. Aku coba menarik kepalaku namun pria ini masih tidak mau melepaskanku sebelum penis busuknya itu benar-benar bersih. Waktu tidak banyak, aku terpaksa menjilati penisnya hingga sisa sperma habis tertelan olehku.
***
Untunglah mama belum pulang. Setelah pria itu mengenakan kembali celananya, aku minta ia segera pergi. Namun aku tidak mau bodoh, aku harus menagih janjinya juga sebelum dia pergi. Bukti pembayaran tagihan bulan ini pun dia berikan padaku. “Terima kasih ya ci”, katanya dengan senyum lebarnya sambil memberikan kuitansi. “Lain kali kalau perlu ditagih, telpon saya saja…”, pesannya. Maaf, aku tidak mungkin melayaninya lagi, semoga bulan depan dia tidak ke sini lagi, dan semoga pria ini bisa menutup mulutnya seperti janjinya.
***
Aku kembali membuka toko, sambil menunggu mama pulang. “Marlboronya dong”, baru kembali buka toko rupanya sudah ada pelanggan menunggu. Dia adalah preman di kawasan ini, “Tumben siang hari ini?”, tanya dia. “Iya bang, bangun kesiangan soalnya”, untunglah dia tidak curiga. “Biasa ya…”, katanya, menandakan bayarnya di akhir bulan. Beberapa orang di sini sering mengutang, namun semuanya pasti bayar, hanya saja mereka ada yang tunggu gajian, bahkan preman tadi menunggu dapat hasil palakan.
***
Pelan-pelan aku harus bina kembali kehidupan kami. Kalau memang di sini masih ada kendala, terpaksa aku dan mama harus pindah lagi. Semoga kami diberikan ketabahan dan ketegaran menjalankan hidup ini.

TAMAT

Pencarian terkait:

komik hentai tetangga, bokep bayar hutang, komik hentai ngentot tetangga, komik hentai pindah rumah, ngentottetanggasemok, hentai tetangga, bokep bayar utang, cerita selingkuh ngintip, cersek citra, bokep bayar janda
Uncategorized