HASRATKU KEPADA WANITA

HASRATKU KEPADA WANITA

Udara dingin dan basah air hujan yang tak pernah berhenti bulan Januari, masih terasa di kulitku yang tebal dan berwarna gelap ini. Aku baru pulang dari kampus saat itu, karena aku baru saja menyelesaikan beberapa tugas kuliah di kos temanku. Bukannya menyelesaikan tugas, aku dan temanku tadi malam minum alkohol jenis tradisional yang terkenal di kota ini. Dan hal yang tak ketinggalan saat masa kuliahku adalah nonton koleksi bokep di komputer teman laki-laki yang sebenarnya dia sangat ganteng dan berkulit putih, banyak wanita dekat dengannya dan pastinya seudah beberapa kali dia menidurinya. Aku hanya bisa iri kepadanya, karena aku sangat jauh berbeda penampilan dengan dirinya. Perkenalkan namaku Dika, mahasiswa di sebuah Kampus swasta terbesar di kota Solo ini. Penampilanku bisa dikatakan tak menarik, dengan berat badan 100kg dan tinggi hanya 177cm.

Malam itu kuputuskan untuk melalui daerah yang sudah terkenal dengan pilihan wanita PSK di kota ini untuk memuaskan fantasiku untuk melihat para wanita yang menjajakan dirinya dengan menunggangi motor di setiap gang daerah itu, tempat yang identik dengan stasiun radio pemerintah dan berdekatan dengan stasiun kereta di kota ini memang sudah sejak dulu menjadi trademark birahi. Hotel kelas melati pun akan banyak ditemukan di daerah itu. Aku yang masih mengendarai motorku terus mencari wanita wanita dengan pakaian seksi dan kadang menampakan celana dalam yang mereka kenakan dari dalam roknya sebagai penarik perhatian. Sebenarnya aku belum pernah sama sekali mencoba untuk “Jajan” di tempat ini karena memang masih belum cukup punya sisa uang dari pekerjaanku walaupun sebenarnya hanya butuh 1 lembar merah dan 1 lembar biru untuk sekali pakai menurut cerita yang pernah ku dengar dari tetanggaku yang sering dibicarakan. Tiba di satu gang sepi diantara hotel melati yang berjajar di daerah kampong itu tepat di pinggir sungai, kulihat ada seorang PSK dengan motor matiknya menunggu untuk mendapatkan pelanggan. Saat melewati wanita di pinggir jalan itu aku lalu dipanggilnya untuk berhenti.

“Berhenti sini dulu dong sayang..”
Kata PSK itu perlahan menggodaku. Aku yang tak punya niat serius dan takut karena belum pernah sama sekali dalam hal mesum ini tak menghentikan motorku dan hanya memperlambat jalanku. Kulihat dari kaca spion itu si PSK kemudian menyalakan motornya dan berusaha mengejarku.

“Berhenti dulu mas..”
Panggilnya mencoba untuk menghentikanku dan akhirnya akupun menghentikan motorku di sisi kiri jalan dengan perasaan deg-degan karena ini pertama kali aku berbicara dengan seorang PSK. Aku sekarang berada di sampingnya dan kucoba melihatnya, sebenarnya PSK itu hanya mengenakan kaos ketat biasa dan celana jeans panjang.

“Ayo masuk kamar dulu mas, aku belum ada tamu dari tadi. Tak kasih komplit sama karaoke(Blow Job) bayar seratus aja” rayunya kepadaku agar aku tertarik.

“Sak karaokene? Aman nggak tempatnya? Pengen sebenernya tapi kayake ga sekarang, kalo minta nomer hape dulu ada nggak?” tanyaku sambil mengulur waktu karena aku ga berniat untuk melakukanya sambil terus kulihat setiap lekuk tubuhnya dan membayangkan untuk meremas bagian dadanya yang terlihat menonjol seukuran 34b itu yang seakan malah semakin membangkitkan iblis cabul di dalam otakku.

“Ngamar dulu, nanti aku kasih nomerku kalo enggak aku ga mau ngasih tak cari tamu yang lain aja.” Ucapan penolakan itu keluar dari PSK itu sambil dia menyalakan motornya untuk pergi meninggalkan aku untuk berpindah ke lain tempat. Seakan tak mau kehilangan kesempatan, dan yang terpikir dariku adalah dia ini PSK saat akan meninggalkan kulihat ada sedikit kesempatan saat dia memegang stang kucoba untuk memegang payudaranya dan berhasil. Sebuah remasan yang sukses kupaksakan mendarat di buah dada PSK itu terasa kenyal dan sedikit kaku mungkin karena bra yang dikenakan. Terlihat ekspresi kaget bercampur kesal tampak di wajahnya dengan reflek menepis tanganku.

“Hehh…Orang gila kamu” maki wanita itu sambil memutar motornya dan pergi. Adrenalin tinggi yang kurasakan setelah melakukan hal itu seakan memberikan kepuasan baru untukku yang sebelumnya hanya membayangkan tapi sekarang bias merasakan walaupun dengan cara jahat seperti ini. Akupun beranjak meninggalkan daerah itu dan bergegas pulang dengan sedikit rasa takut kalau saja ada preman yang dilapori si wanita PSK itu dan kemudian mencariku entah dihajar ataupun apa itu tindakan meraka untuk memberi pelajar kepadaku.

Sejak malam itu aku selalu mencari kesempatan untuk melakukan hal yang sama dan lebih parahnya bukan daerah tempat mangkal para PSK lagi yang menjadi sasaranku. Setiap jalan sepi yang coba kulalui dan jika ada wanita mengendarai motor saat itu adalah kesempatan terbaikku untuk melakukan aksi konyol yang entah apa yang mereka rasakan yang penting aku merasakan puas.
Ada 2 waktu yang menurutku sangat bagus, pertama saat subuh sampai menjelang pagi waktu dimana jalan masih lengang dengan kegiatan kesibukan hari itu, beberapa korbanku pada waktu itu adalah wanita yang sedang melakukan olahraga pagi dengan bersepeda atau lari. Entah berapa umur mereka sepertinya aku merasakan ada hal yang sangat luar biasa kulakukan saat itu, teriakan dan cakaran tangan tak pernah kuhiraukan. Walaupung hanya remasan yang terkadang juga mengarah ke bokong wanita yang menjadi korbanku sangat kunikmati. Waktu tepat yang lain adalah ketika malam hari pada jam pulang pekerja pabrik yang entah dimana mereka di pabrik yang mana, memang daerah tempatku tinggal banyak berdiri pabrik tekstil yang tentunya mayoritas pekerjanya adalah wanita. Aku memulai mengintai korbanku dari pabrik tempat mereka bekerja saat pulang, dalam perjalanan aku selalu mencari saat yang tepat untuk hal yang menurutku sangat mengasikan dan memberikan kepuasan kepadaku. Entah kelainan apa yang terjadi padaku setelah malam pertama kali aku melakukan hal konyol ini kepada PSK yang kutemui waktu itu di daerah kota yang sangat identik dengan julukan “The Spirit of Java” ini. Tak sedikit juga beberapa targetku lepas dari aksiku karena mungkin dia sudah merasa tidak nyaman ketika ada orang yang mengikutinya dari belakang.

Suatu malam saat aku warung angkringan (hik) mendengarkan beberapa orang berita tentang penjambretan di daerah yang sering aku lalui untuk mencari korban, sedikit kaget dengan kabar itu karena mungkin akulah yang di maksud dalam cerita merika karena aksiku memang mirip dengan cara para penjambret bermotor. Sejak saat itu aku agak jarang melakukan aksiku karena mungkin orang yang menyebarkan berita itu adalah salah satu korban dari kegiatan abnormalku itu. Tapi aku tak berhenti begitu saja, kadang aku mencari tempat baru yang pas untuk beraksi lagi walaupun hanya satu atau dua kali. Tak hanya itu, di televisi pun beberapa kali kulihat berita tentang pelecehan seksual yang terjadi dalam kendaraan umum di ibu kota yang pelakunya tertangkap kadang dihajar oleh masa atau di proses secara hukum oleh Polisi. Perasaan yang bingung karena mengetahui hal yang kulakukan ternyata juga terjadi di luar sana namun dengan nasib yang berbeda karena aku tak sesial yang mereka alami setelah melakukan pelecehan kepada para wanita.

Suatu malam saat aku sedang galau berat dan hanya bisa melamunkan kandasnya cintaku yang dan belum pernah sama sekali bercumbu dengannya. Dalam lamunanku aku pun berpikir sesuatu hal “Aku gak perlu melakukan itu ke pacarku pun sudah beberapa wanita kurasakan payudaranya walaupun hanya sekedar meraba dan meremas dan itu gak pernah ada resikonya buat aku karena selalu aman saat aku melakukannya”. Seolah membangunkan monster cabul dalam diriku aku pun langsung menaiki motorku dan lalu berputar putar di beberapa tempat, jalan diantara persawahan dengan kondisi gelap karena tak ada penerangan sama sekali. Kulihat satu dua pengendara motor yang melintas juga saat itu, tapi mereka semua laki-laki. Ketika hampir putus asa kulihat didepanku ada cahaya merah lampu belakang motor bergerak pelan searah denganku. Motor ini muncul dari salah satu jalan di tengah sawah yang berasal dari sebuah desa disana. Sekilas kulihat bagian kaki pengendara itu tadi seperti mengenakan rok atau sarung, “mungkin dia bapak bapak pulang dari pengajian”. Karena laju motor itu sangat pelan hingga akhirnya kusadari itu adalah seorang wanita berjilbab yang mengenakan rok panjang sendirian. Entah dari mana dan mau kemana wanita ini padahal jam sudah menunjukan pukul 00.47, aneh sekali tapi mungkin ini adalah kesempatanku. Benar saja dia hanya melaju sangat pelan, motor bebek 2-tak yang sudah cukup tua itu yang dia kendarai yang jalannya pasti kalah jauh dengan motor bebek 4-tak ku yang bermesin 125cc yang tertulis di STNK motorku ini. Kudekati perlahan, kulihat wajah seorang wanita berparas sangat cantik dan berkulit putih terlihat tenang. Samar kulihat tubuhnya yang memang agak kecil, tak nampak lekuk tubuh darinya karena dia mengenakan pakaian yang sangat longgardi tubuhnya itu. Kali ini sedikit ragu untuk langsung melakukan raba dan lari, kucoba untuk sedikit mengajak dia berbicara.
“Mbak ini udah malam kenapa lewat jalan sepi ini?” tanyaku untuk mencoba mengajak bicara wanita berjilbab yang sekarang sudah sejajar denganku mengendarai motornya. Tak ada jawaban sama sekali darinya, hanya sedikit melihatku dan tersenyum kecil . kulihat sebuah tas kecil yang tergantung di stang motor sebelah kirinya, tak begitu jelas apa yang dibawanya tapi ada benda yang bercahaya dari dalam sepertinya sebuah ponsel yang mungkin baru saja dia pakai. Kupastikan keadaan saat itu sudah aman dan tak ada orang lain dari depan dan dengan spion motorku untuk mengamati sebentar arah belakang. Saat ku pastikan keadaan situasi sudah berpihak kepadaku langsung ku lakukan hobi yang kugunakan untuk memuaskan nafsuku ini. Dengan hanya mengandalkan naluriku yang menebak nebak saja dimana letak toket wanita yang sebenarnya tak tampak Karen tertutup bajunya yang longgar. Saat kujulurkan tanganku dengan cepat mengarah ke dadanya kutemukan gundukan yang lumayan kenyal dan entah berapa ukuran hanya kurasa pas di genggaman tanganku, langsung saja kuremas toket wanita berjilbab itu dan sontak wnita itu kaget dengan apa yang kuperbuat kepadanya.

Laju motornya pun kini agak oleng dan sempat untuk mencoba menghindar dan ketika dia coba menyingkirkan tanganku motornya melewati lubang di jalan yang agak dalam motornya pun kini sudah tak terkendali dan keluar dari jalan aspal. Seakan menambah kesialannya dia menabrak sebuah gubuk, tampaknya adalah warung di tepi sawah yang tebuat dari anyaman bambu dan pastinya tak ada penghuninya karena warung itu hanya buka di siang hari saat para petani bekerja di sawah.
“Braaakkk…” Suara motornya menabrak dinding bambu warung itu dan sedikit menyebabkan kerusakan di warung itu. Aku pun menghentikan motorku, kupinggirkan motorku dank u matikan mesin motorku. Tanpa ada rasa takut sedikitpun aku menghampiri wanita itu dengan berjalan kaki. Hanya sebuah tangisan kecil dan rintihan sakit yang bisa kudengar darinya. Akhirnya kuhampiri dia.
“Huhuhuhu…….. Aduh…” Dengan agak takut dia membentakku
“Mau apa lagi kamu!??”
Kulihat wanita itu tertindih motor dan berusaha untuk menarik kakinya yang tertindih dan sempat ingin meraih ponsel yang ingin dia ambil dari dalam tasnya. Dengan cepat kuraih tas itu dan sempat melawan wanita itu untuk tidak mengambil tas miliknya.
“Jambreet….” Teriaknya sambil terus melawan untuk menarik tasnya tanpa memikirkan posisinya yang masih terbaring dan tertindih motor. Akupun melwannya, kuinjak motor yang menindih sebagian kakinya. “Aaaaaahhhhhh…… Sakit” erangan wanita itu dan akhirnya perlawanan untuk mempertahankan tas itu melemah akhirnya tas itu kupegang. Namun aku yang tak bermaksut mencopet ini kemudian membuang tas itu ke tengah persawahan. Memang maksutku adalah agar wanita itu tak bisa minta bantuan dengan ponselnya yang berada dalam tas.
“Makanya, jadi orang jangan sombong gitu.” Dengan nada agak mengejek dan sedikit tertawa kukatakan itu dan kuraih motor yang menindihnya kemudian ku angkat motor itu dan kusingkirkan kepinggir agak jauh darinya di pinggir sawah. Wanita ini terlihat lemas dan kesakitan tak bisa berdiri hanya mampu duduk saat itu.
“Mau apa kamu, dasar bangsat….” Teriak wanita itu.
“Tenang dong, kamu nurut aja pasti ga akan lebih parah atau bahkan mati.” Entah apa yang ada di diriku saat itu hingga ancaman itu muncul dariku. Sambil kutarik tangan wanita itu ke gubuk warung tadi, cewek ini terus coba berontak dan melepaskan tanganku yang kini menyeretnya ke dalam gubuk yang hanya tertutup bagian bawahnya. Kududukan dia di tanah di dalam gubuk itu.
“Asu… kamu ini binatang!” Wanita ini memaki dan terus memukulku.
“Hey, hey.. Tenang saja, kalo kamu menurut kamu aman. Lagi pula aku masih baik ke kamu, aku nolong kamu dan sekarang aku bawa kamu berteduh disini” memang saat itu langit sangat gelap dan gerimis mulai turun.
“Mau perkosa aku sekarang? Kamu ga akan bisa!”
“Bugg.. Blaaakkk……” tendangan wanita itu sangat keras mengarah ke dadaku, membuat aku terpental dan menghantam meja didalam warung itu.
“Siiaalan kamu..!” aku bangkit dan kemudian membanting tubuh wanita itu ke tanah, kutindih tubuh kecilnya itu dan kini dia hanya bisa menggerakan tangannya untuk melawan dan coba memukulku. Tapi tangannya pun segera ku genggam dengan sangat erat tanpa memberikan kesempatan untuk bisa memukul atau menariknya.
“Bangsat.. Keparat….. Tolonggg……………………” teriakan yang pasti tak akan terdengar oleh siapapun di malam itu, dan pastinya hujan yang semakin lebat. Aku mencoba untuk mencium payudara wanita itu, kenyal kurasakan kedua payudara yang ada didepanku ini sudah terlihat bentuknya karena ku rentangkan tangannya. Wanita itu coba berontak, tubuhnya menggeliat mencoba menyingkirkan tubuhnya dariku dan masih terus berteriak minta tolong. Kepalaku diludahinya beberapa kali saat aku asik dengan ciuman dan gigitan ke toketnya, ukurang toket yang sekitar 36B ini sangat terasa nikmat. Kucoba memegang kedua tanyanya dengan satu tangan kiriku karena dia kini sudah terlihat lemas karena usahanya yang mencoba melawanku dari tadi, dengan mudah kugenggam pergelagan tangan kecil yang mungkin dia ini masih seorang gadis yang belum bersuami dari jarinya tak kulihat cincin atau perhiasan sama sekali. Dan kini tangan kananku sudah mencoba meremas susunya, secara bergantian kuremas dengan keras. “Wah, kamu masih perawan ya? Ini susu masih keras.” Kataku yang coba memuji dan menebak statusnya karena memang terasa empuk tapi kencang. Saat aku asik meremas payudaranya, tiba tiba suara motor dari kejauhan kudengar. Dan wanita ini coba meminta tolong pada orang yang sepertinya melaju dengan cepat ini. Posisi kami yang ditanah dan tertutup oleh dinding bambu warung ini pun membuat kami tak terlihat dan orang yang akan lewat itu tak dapat melihat kami.
“Too…eemmmmbbbhhhh………………….” Wanita ini mencoba berteriak minta tolong dan segera ku bekap mulutnya agar tak bersuara. Motor itu melaju cepat melewati warung dimana aku sedang berusaha mencabuli wanita berjilbab ini yang kutindih ini, sedikit rasa deg-degan ketika itu tapi kemudian lega ketika orang yang lewat tadi tidak tahu ada kami di sini. Tiba-tiba jariku terasa sangat sakit karena gigitan wanita ini.
“Aaahhhhh……. Sialan” sambil kupukul wajah wanita yang masih memakai jilbabnya tanpa kulepas dan memang tak ada yang kubuka satupun pakaian yang dia kenakan karena posisiku yang menindih dengan kuat.
“Bajingan kamu….”makian yang tedengar lemah dan bercampur tangisan pun kudengar. Kuarahkan tangan kananku kini ke daerah selangkangan kakinya yang masih terbungkus rok panjang tanpa kubuka itu. Kutekan dengan keras lubang pipis milik wanita ini yang tentu masih tertutup celana dalam itu dengan jariku, hanya seperti daging kenyal disitu kurasakan tapi tetap ku gesekan jari telunjukku disitu.
“Aduuuuhhh… ampun pak…. Sudah, tolong sudah pak….. aku mau pulang.” Keluh wanita cantik berjilbab korban pemerkosaank ini.
“Diam! Atau mau Mati sekarang!” Ancamku sambil mencekik lehernya agar dia menuruti setiap perkataanku. Langsung kutarik tangannya agar dia berdiri, kubanting tubuhnya ke meja warung dengan keadaan tengkurap. Kubuka rok panjangnya ke atas, lalu kuturunkan celana dalamnya, lalu kubuka resleting celanaku dan segera kukeluarkan Si Iblis kecil dalam celanaku yang sudah tegang. Kuarahkan batang kemaluanku masuk kedalam memek wanita ini, agak sulit memasukan kontolku yang pendek dengan posisi dari belakang ini namun dengan usaha yang kuat akhirnya aku bisa memaskannya..
“Aahahhhhh…. Ternyata enak banget.”
Mulai kugerakkan tubuhku maju mundur dan ku tekan tubuhnya agar tetap menempel dimeja agar dia tak lari.
“Ooouugghhh….. Ternyata begini rasanya ML, Kamu sudah pernah belum sayang?”
“Huk.. huk… hukk,,,,….” Tangisnya yang tersentak-sentak karena kudorong dia dengan kuat saat itu.
Tubuhku mengejang, seakan darah semakin naik sampai kepalaku merasakan sensasi pertamaku merasakan memek seorang wanita yang mungkin dia sudah tak perawan lagi karena tak kurasakan jepitan dari memeknya saat itu. Atau mungkin juga kontolku yang terlalu pendek membuatnya gak bisa masuk terlalu dalam.
“Aaahhhhhh………..” Tak berapa lama aku merasakan seperti sudah menyemprotkan spermaku dalam memek wanita itu beberapa kali. Terasa hangat kini ujung kontolku dan segera kucabut dari vaginanya. Aku segera membereskan celanaku lagi.
“Makasih ya cantik…” Ucapku kepada wanita itu dan segera meninggalkannya yang masih tengkurap lemas di meja dan masih menangis. Berbagai perasaan saat kulakukan hal itu, fantasi seks dengan pemaksaan dan di tempat yang tak semestinya ini seperti member kepuasaan. Setiap keluhan, gerakan melawan dan tangisan wanita ini tak kuhirauka seperti aku sudah menjadi setan 100%. Mungkin sebuah mimpi buruk yang datang dalam kenyataan hidupnya, tanpa dia mengenal siapa aku yang melakukan hal ini dan akupun juga tak mengenal wanita ini. Siapa dan darimana menurutku bukan hal yang penting, hanya tubuh yang kulihat liar dan siap untuk gerayangi setiap saat. Aku bergegas meninggalkannya, aku takut kalau ada orang yang lewat lagi. Tak kuhiraukan segala sesuatu yang telah terjadi tadi aku langsung kembali pulag kerumah.

Sesampai dirumah aku segera memasukkan motorku dan melihat keadaan di jalan saat itu, takut ada orang yang mengikutiku saat itu. Langsung aku masuk rumah, kulepas semua pakaianku dan segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan beberapa bekas tanah di kaki dan tanganku dan mengelap air hujan yang membasahi tubuhku. Aku masih didalam kamar mandi dan sambil membayangkan apa yang kulakukan tadi, sebuah tubuh dari seorang gadis berjilbab menjadi pelampiasan fantasi seks ku yang selama ini kuingin walaupun aku belum merasakan nikmatnya ML. Tak sadar tanganku memainkan penisku naik turun, sampai spermapun akhirnya keluar. Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian aku pun melanjutkan tidur malam itu untuk menghilangkan kepanikan dan rasa takutku.

Pagi hari jam 08.00 setelah aku bangun, aku segera ke warung soto tempat dimana aku biasa sarapan di dekat polsek di tempat tinggalku. Dan mendengar perbincangan orang orang disana yang ternyata sudah ada kabar tentang “Perampokan dan pemerkosaan” yang terjadi di sebuah jalan, seperti tersengat listrik tegangan tinggi akupun agak kaget saat makan. Aku berusaha minum teh hangat yang kupesan, namun belum sempat aku memesan makanan aku segera menghabiskan minumku dan segera pulang kerumah. Rasa takut ketahuan dan bayang-bayang dihukum di penjara selalu ada di lamunanku, aku berusaha untuk tak keluar rumah beberapa bulan sejak itu, hanya ke rumah teman dengan berjalan kaki dank e tempat terdekat yang aku tuju. Pakaian dan semua yang kukenakan pada malam hari itu tak lagi kupakai, aku dirumah menjadi orang yang senang mengurung diri dalam kamar. Tak kupedulikan kuliahku yang memang sudah berantakan karena biaya yang belum terbayar dan pacarku tak pernah ku kunjungi sejak saat itu. Selama aku mengurung diri dalam kamar aku ketakutan, dan ketakutanku bertambah ketika aku ingat mungkin saja orang sepertiku masih ada diluar sana dan bisa mengancam pacarku. Ingin ku selalu melindungi dia, tapi mungkin karena aku mungkin dicari oleh banyak orang dan polisi di luar sana aku mengurungkan niatku.

Beruntung malam itu hujan deras, segala jejak dan bekas sidik jari tanganku rusak dan sepertinya aku aman setelah beberapa bulan setelah itu mereka menyatakan itu adalah pelaku penjambretan yang sudah jadi DPO kepolisian, merasa itu bukan aku yang dimaksut maka egiatanku kembali lancer setelah 2 bulan aku mengurung diri. Keberuntungan seorang penjahat sepertiku, tak akan perah kulakukan lagi sejak saat itu.

“Lanjut dibawah ya…”

Pencarian terkait:

bokep streaming selingkuh, bokep psk stw, ratu kentu, menyusui tukang ojek, bokep streaming jepang selingkuh, bokep wanita stw, download bokep jepang ada ceritanya, wanita paruh baya panggilan, cerita lendir, id bigo live hot
Uncategorized