Balada Rif’Ah, Seorang Akhwat Partai – 7

Sebelum kita mengungkap siapakah sosok yang mendobrak pintu kamar mandi ketika Abu Nida dan Rif’ah sedang asyik memadu cinta, kita harus kembali dulu di akhir pertarungan antara Ummu Nida dan Faizah yang berlangsung di Kantor DPD.

“Dugg … Dugg …” Faizah tampak terus melesakkan pukulan ke tubuh Ummu Nida walaupun sang ummahat telah tersungkur di matras. Setelah Ummu Nida tampak sudah tidak melawan lagi, barulah Faizah mundur dan membiarkan Ummu Rosyid menolong Ummu Nida yang sepertinya sudah sulit untuk berdiri.

Sambil terengah-engah, Ummu Nida pun dibopong oleh Ummu Rosyid ke pinggir matras. Perbedaan usia antara dirinya dan Faizah tampaknya tidak bisa ditutupi. Secara teknik mungkin Ummu Nida lebih mahir daripada Faizah, namun stamina Faizah terbukti jauh mengungguli ummahat yang telah beranak tiga tersebut, sehingga Faizah bisa lebih berkonsentrasi dalam bertahan dan menyerang.

“Aduh, sepertinya ada luka neh, Ummu Nida. Saya ambilkan plester sebentar,” ujar Ummu Rosyid sambil langsung berlari keluar untuk mengambil alat P3K.

Ketika Ummu Rosyid telah berada di luar ruangan, barulah Faizah berjalan mendekati Ummu Nida dengan perlahan. “Bagaimana Ummu, sudah mengakui kalau aku lebih unggul?” Ujar Faizah meledek.

“Iya, Faizah. Dengan ini saya ikhlaskan kamu untuk menjadi komandan Santika di DPD.”

“Uups, sepertinya Ummu lupa kalau Ummu punya 1 janji lagi,” kali ini Faizah mengucapkannya sambil mengelus paha Ummu Nida. “Ummu masih harus mengembalikan Rif’ah agar bisa kembali 1 kost dengan saya.”

“Jangan ganggu dia, ia adalah anak baik-baik,” ujar Ummu Nida dengan tegas. Padahal pada saat yang bersamaan, akhwat yang ia sebut anak baik-baik itu sedang asyik menikmati hujaman kemaluan dari suaminya, Abu Nida. Bila Ummu Nida mengetahuinya, ia pasti akan langsung merelakan Rif’ah untuk kembali ke kostan Faizah.

“Kalau begitu, Ummu harus mengirimkan seorang pengganti untuk saya.” Lanjut Faizah dengan elusan tangan yang makin naik, mendekati pinggul Ummu Nida. Kali ini ia pun menambahkannya dengan senyuman penuh ejekan dan syahwat.

Ummu Nida pun bergidik, ia langsung melepaskan tangan Faizah dari pahanya. Tapi bukan Faizah namanya, kalau ia berhenti begitu saja. Ia pun langsung merangkul tubuh Ummu Nida dan mengecup bagian leher ummahat tersebut. Padahal Ummu Nida masih bersimbah keringat bekas pertarungan dengan dirinya. Namun Faizah nampak tak perduli. Ia terus saja mengecup leher Ummu Nida yang tertutup jilbab. Faizah bahkan sampai mengelus-elus bagian payudara Ummu Nida.

Ummu Nida pun berontak, namun tenaganya yang sudah terkuras pada pertarungan tadi nampak bukan tandingan bagi Faizah. Faizah baru berhenti menggerayangi tubuh Ummu Nida ketika terdengar langkah kaki Ummu Rosyid yang kian mendekat.

“Nanti kita lanjutkan yah, Ummu,” ujar Faizah sambil tersenyum. Akhwat muda tersebut pun beranjak pergi ketika Ummu Rosyid masuk ke aula Gedung DPD tersebut.

—–

Sejak pertarungan dengan Faizah, kondisi fisik Ummu Nida tidak juga membaik. Ia bahkan tidak bisa membawa motor sendiri, padahal setiap hari ia masih harus pergi ke Gedung DPD untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya. Ia sudah meminta keringanan untuk melakukan pekerjaan di rumah saja, namun hal itu tidak disetujui.

Ia pun membicarakan hal itu dengan suaminya, Abu Nida. Sang suami pun menyarankan Ummu Nida untuk meminta bantuan seorang pegawai di DPD untuk mengantarnya pulang pergi dari rumah ke Gedung DPD. Ummu Nida sempat ragu akan ide tersebut, karena kebanyakan pegawai DPD yang bisa dimintai tolong dan membawa kendaraan adalah laki-laki alias ikhwan. Sementara Abu Nida sendiri punya pekerjaan sendiri yang lokasinya berlawanan arah dengan gedung DPD. Namun setelah Abu Nida mengatakan kalau hal itu tak masalah, Ummu Nida pun mengiyakannya.

Ummu Nida pun menghubungi Yanto, seorang pegawai DPD yang ia kenal. Yanto adalah seorang ikhwan berusia 35 tahun yang telah menikah dan mempunyai 1 orang anak. Ia pun menyanggupi untuk membantu Ummu Nida, apalagi Ummu Nida juga menjanjikan sejumlah uang sebagai ganti dari mengantar jemput Ummu Nida.

—–

Pagi itu, seperti biasa, Yanto pun menjemput Ummu Nida untuk bersama-sama ke gedung DPD. Setelah berpelukan dan berpamitan dengan suaminya, Ummu Nida pun membonceng dengan posisi duduk menyamping. Karena kondisi jalan yang buruk, beberapa kali Ummu Nida harus berpegangan dan memeluk pinggang Yanto. Yanto tampak tak masalah dengan hal tersebut, ia malah menarik tangan Ummu Nida agar berpegangan pada pinggangnya. Namun Ummu Nida tetap masih merasa canggung untuk berpegangan pada lelaki yang bukan muhrimnya tersebut. Tapi lama kelamaan, Ummu Nida pun berpikir kalau itu adalah kondisi darurat, dan hal tersebut diperbolehkan. Ia pun langsung berinisiatif untuk memeluk pinggang Yanto dengan erat.

45 menit kemudian, mereka pun sampai di gedung DPD. Ketika turun dari motor, Ummu Nida tampak mengingat sesuatu, dan membuka-buka tasnya. “Aduh, Yanto. Sepertinya HP saya ketinggalan, bisa minta tolong kembali ke rumah saya dan ambilkan?”

“Bisa, Ummu … Di mana terakhir Ummu menaruhnya”

“Kalau tidak salah ada di meja ruang tamu. Ini kunci rumah saya, minta tolong yah, Yanto.” Ujar Ummu Nida sambil menyerahkan kunci rumahnya. Yanto pun langsung berbalik dan mengendarai motornya kembali ke rumah Ummu Nida.

—–

Begitu duduk di ruangan kerjanya, Ummu Nida langsung berpikir tentang kata-kata Faizah kemarin. Ia tidak mungkin menyerahkan Rif’ah kembali kepada Faizah. Lalu siapa yang akan diserahkannya sebagai wanita pengganti?

Ummu Nida pun membayangkan kembali apa yang dilakukan Faizah, ketika ia menggerayangi tubuh Ummu Nida kemarin. Ia merasakan sedikit gairah, walaupun ia tahu itu merupakan hal yang salah. Apa ia harus menyerahkan dirinya sendiri sebagai wanita pengganti? Ummu Nida pun cepat-cepat menghilangkan ide tersebut dan langsung fokus ke pekerjaannya.

—–

Sesampainya Yanto di rumah Ummu Nida, ia kaget karena pintu rumah tersebut ternyata tidak terkunci. Percuma saja Ummu Nida menitipkan kunci pada dirinya tadi. Ah, mungkin Abu Nida tadi lupa menutupnya ketika berangkat kerja, pikir Yanto. Ia pun langsung masuk dan mencari handphone Ummu Nida yang tertinggal. Dengan mudah, ia menemukan handphone tersebut di tempat yang tadi disebutkan Ummu Nida, yaitu di atas meja ruang tamu. Ketika ia baru mau beranjak untuk kembali ke Gedung DPD, Yanto mendengar suara aneh dari arah dalam rumah. Ia pun curiga, menghentikan langkah, dan berjalan perlahan ke arah dalam.

Ia pun mencari-cari sumber suara tersebut, dan ia menemukan suara tersebut berasal dari arah kamar mandi. Tanpa suara, ia pun mengintip dari celah sempit yang terbuka antara pintu kamar mandi dan dinding. Alangkah terkejutnya Yanto ketika mengetahui kalau suara aneh yang ia dengar ternyata adalah desahan penuh gairah dari seorang akhwat, yang sedang disetubuhi di dalam kamar mandi. Ia pun makin terkejut karena ia mengenal sosok akhwat yang sedang mendesah dengan wajah menahan birahi tersebut. Ia adalah Rif’ah, akhwat muda yang paling cantik di DPD. Ketika Yanto coba mengenali sosok pria yang sedang menggenjot kemaluan Rif’ah, ia pun makin terkejut karena ia tidak lain adalah Abu Nida, suami Ummu Nida yang selalu ia antar jemput setiap hari.

“Terus Abu, ahh … ahh” terdengar jelas desahan binal Rif’ah dari dalam kamar mandi. Akhwat yang biasanya selalu menjaga jarak bila bertemu dengan Yanto, kini malah terlihat sedang mengejar birahi dengan pria yang bukan suaminya. Tanpa sadar, kemaluan Yanto pun jadi terangsang. Walaupun sehari-hari bekerja di DPD sebuah partai islam, namun Yanto tetaplah laki-laki biasa yang punya nafsu birahi. Apalagi yang sedang ia lihat adalah seorang Rif’ah, yang sedang terbuka auratnya, dan menunjukkan kesintalan dan keseksian tubuhnya.

Yanto nampak begitu terangsang ketika melihat Abu Nida memangku Rif’ah dan memasukkan kontolnya dari bawah. Memek Rif’ah yang nampak begitu gurih itu berkedut-kedut menahan tusukan-tusukan kejantanan Abu Nida. Sambil menyetubuhi akhwat cantik itu, Abu Nida juga meremas-remas payudara Rif’ah yang terbuka bebas. Jilbab panjang yang biasa dikenakan Rif’ah kini telah tersampir di lehernya. Yanto memperkirakan ukurannya sekitar 36A atau 36B.

“Ayo Dik Rif’ah keluarkan saja.. Abu juga sudah ga kuat.. Aghhh.. Dik.. Dikk rif’ahhh.. Abu keluar nih.. !!” Terdengar teriakan Abu Nida yang sudah begitu gila dilanda badai birahi yang diberikan oleh Rif’ah.

Yanto pun menjadi semakin sange. Ia merasa sudah tidak kuat lagi menahan gairah, apalagi ketika Rif’ah dan Abu Nida nampak sama-sama orgasme. Paras Rif’ah yang biasanya terlihat begitu lembut dan alim, ternyata bisa juga berubah menjadi sangat binal dan erotis ketika sedang menyemprotkan cairan cinta. Tanpa berpikir panjang, Yanto pun langsung membuka pintu kamar mandi tersebut, dan mengejutkan dua insan berlainan jenis kelamin yang ada di dalamnya.

“Yanto …” ujar Rif’ah setengah berteriak. Ia pun langsung berdiri dan menjauh dari tubuh Abu Nida yang masih terdiam duduk di atas toilet. Rif’ah tampak gelagapan dan berusaha menutupi kembali tubuhnya dengan jilbab panjang dan jubah yang tadi sebenarnya sudah berserakan di lantai kamar mandi. “Apa yang kamu lakukan di sini?”

Yanto pun tersenyum penuh arti. “Tadinya saya ke sini karena disuruh mengambilkan handphone Ummu Nida yang ketinggalan. Eh, malah dapet tontonan menarik. Mirip sama video porno, tapi jadi lebih bikin sange karena pemeran utamanya akhwat berjilbab.” Kata-kata kotor Yanto membuat Rif’ah jadi merinding. Ia tak menyangka Yanto yang biasanya tidak pernah berkata-kata setiap kali mereka bertemu, kini malah mengucapkan kata-kata seperti itu di hadapannya.

“Tolong jangan bilang apa-apa sama orang lain tentang ini, terutama istriku, jangan sampai dia tahu. Saya mohon,” Abu Nida tampak begitu khawatir. Tidak ia sangka kalau perselingkuhannya dengan Akhwat didikan istrinya itu bisa terbongkar oleh Yanto.

“Tenang saja Abu, saya nggak akan membocorkan hal ini … Asal,” perlahan Yanto mendekati Rif’ah yang kian terpojok ke dinding kamar mandi. Sadar kalau dirinya sudah tidak bisa menghindar lagi, Rif’ah pun hanya membiarkan saja ketika Yanto membelai pipinya yang lembut. Kalau tidak dalam kondisi terdesak seperti ini, Rif’ah pasti sudah menampar ikhwan DPD yang 10 tahun lebih tua dari dirinya tersebut.

“Asal apa, Yanto?” Ujar Abu Nida yang masih tanpa busana, dengan kontol yang kembali naik karena melihat Rif’ah yang mulai digerayangi oleh Yanto.

“Asalkan aku juga diperbolehkan menikmati tubuh indah Rif’ah, Abu.” Kini Yanto pun mulai berani mengarahkan tangan kanannya ke pantat Rif’ah yang kini sudah berbalut jubah panjang, walau masih terpasang asal-asalan. Tangan kirinya pun menarik kepala Rif’ah dan mengajaknya berciuman. Rif’ah awalnya menolak, namun ketika melihat kode dari Abu Nida, yang seolah berkata kalau ia harus menyerah kepada Yanto, Rif’ah pun pasrah. Ia sadar kalau saat ini ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Yanto telah mengetahui rahasia mereka berdua, dan mereka harus berbuat apapun agar Yanto tetap tutup mulut.

“Nghhh … ” Terdengar sedikit desahan dari mulut Rif’ah yang manis, ketika Yanto memainkan lidahnya di dalam mulut Rif’ah. Dengan penuh nafsu, bibir yang seksi itu pun dilumat oleh Yanto tanpa ampun. Sedangkan di bawah, tangan kanan Yanto begitu aktif meremas pantat akhwat berjilbab yang alim tersebut. Rif’ah yang sudah pasrah, pun ikut membalas dengan merangkulkan tangannya ke leher Yanto. Tampaklah pasangan ikhwan dan akhwat yang biasanya mengurusi permasalahan ummat di kantor DPD, kini sedang asyik menyalurkan nafsu birahi masiing-masing di dalam sebuah toilet.

Yanto pun tidak mau menunggu lama lagi. Ia melepaskan sejanak gerayangan tangannya di tubuh Rif’ah, dan membuka resleting celananya. Dengan cepat, ia langsung menurunkan celana panjang dan celana dalamnya. Kontol yang perkasa milik Yanto pun langsung menyembul keluar, Rif’ah pun kaget. Kontol tersebut berwarna hitam, dengan ukuran yang sedikit lebih besar daripada milik Abu Nida. Bedanya lagi, ketika ngaceng kontol tersebut tampak mengeluarkan urat-urat yang begitu besar. Perkasa dan nampak tidak terawat, berbeda sekali dengan milik Abu Nida yang selalu bersih dan wangi.

Dengan gerakan yang sedikit kasar, Yanto pun memaksa Rif’ah untuk berjongkok di hadapan kemaluannya. Rif’ah pun tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia akan dipaksa melakukan blow job kepada kontol Yanto. Ingatannya pun kembali ke saat ia melihat foto-foto porno akhwat berjilbab yang mirip dirinya, sedang mengulum kemaluan besar milik seorang negro. Kini, ia pun akan mengalami hal yang sama. Hal itu menyebabkan gairahnya kembali naik, hingga membuat puting payudaranya yang berwarna merah muda menjadi tegang.

“Ayo ukhti manis, hisap donk kontol Abang,” ujar Yanto dengan nada merendahkan. Rif’ah yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi, memulainya dengan menjilat-jilat ujung kemaluan Yanto yang tampak berkedut-kedut. Melihat korbannya yang masih malu-malu, Yanto pun menarik kepala Rif’ah yang berbalut jilbab ke arah kontolnya. “Yang benar donk sayang, jangan hanya dijilat-jilat gitu.”

Rif’ah pun membenahi posisinya, dan memasukkan kontol Yanto ke dalam mulutnya lebih dalam. Kepalanya maju mundur seiring dengan frekuensi hisapannya pada kontol Yanto. Yanto pun tak ingin kehilangan memori akan momen indah ini. Ia menikmati benar setiap hisapan dari Rif’ah, seorang akhwat cantik yang merupakan idaman banyak ikhwan di DPD, yang kini sedang melacurkan dirinya dengan menghisap-hisap kemaluan Yanto. Di belakang Yanto, Abu Nida melihat pemandangan erotis tersebut sambil terpana. Ia pun mulai mengelus-elus kemaluannya sendiri.

Sedang asyik menikmati pelayanan dari Rif’ah, tiba-tiba handphone yang ada di kantong kemeja Yanto berbunyi. Itu adalah handphone Ummu Nida yang ketinggalan dan baru saja ia ambil. Hampir saja ia lupa kalau ia masih harus kembali ke DPD untuk memberikan handphone tersebut kepada Ummu Nida. Ia pun mengangkat telepon tersebut. “Hallo, Assalamualaykum.”

“Hallo, waalaykumsalam. Ini Yanto yah? Ini Ummu Nida, To. Ana nelpon pakai nomor telepon kantor” Ujar suara merdu seorang akhwat di ujung lain telepon.

“Oh, iya Ummu. Ini Yanto.”

“To, handphonenya sudah ketemu yah? Cepat bawa ke kantor, yah”

“Ahh … Iya, Ummu,” sambil menelepon, Yanto masih terus menikmati nikmatnya hisapan mulut Rif’ah. Tanpa sadar ia pun sedikit mendesah ketika akhwat manis tersebut mulai memainkan lidahnya di ujung kemaluan Yanto.

“To, kamu kenapa? Koq kayak ngos-ngosan gitu?”

“Nghh … Nggak apa-apa, Ummu. Tunggu yah, sebentar lagi Yanto sampai di kantor.” Ujar Yanto sambil menahan desakan birahi yang tengah menerpanya.

“Oke, To. Ana tunggu di Kantor. Assalamualaykum.”

“Waalaykumsalam.” Yanto langsung menutup telepon dan mengembalikannya ke kantong kemejanya. Ia pun langsung menarik kepala Rif’ah yang berbalut jilbab ke arah kemaluannya, agar kontol hitamnya bisa masuk lebih dalam ke mulut akhwat tersebut. Ia gerakkan kepala Rif’ah maju mundur, seolah ia sedang menyetubuhi kepala akhwat manis tersebut. Rif’ah pun gelagapan dibuatnya.

“Rasakan ini … Salah sendiri kenapa kamu bikin aku sange pas lagi terima telepon Ummu Nida tadi.” Rif’ah tampak sudah bisa mengimbangi gerakan pinggul Yanto yang maju mundur menyetubuhi mulutnya. Bahkan ketika Yanto melepas pegangannya di kepala Rif’ah, akhwat cantik tersebut sudah secara otomatis menyesuaikan gerakan kepalanya dengan hentakan kontol Yanto yang terasa semakin tegang. “Terus hisap ukhti, sedikit lagi abang keluar.”

Memang benar, birahi Yanto telah sampai di ubun-ubun. Gerakan erotis akhwat seksi di hadapannya membuatnya tak kuat lagi menahan rangsangan birahi tersebut. Tak berapa lama, ia pun memuntahkan spermanya ke wajah Rif’ah. Akhwat berkulit putih tersebut nampak kaget ketika semburan cairan kental berbau khas membasahi wajahnya yang cantik. Yanto pun mengangkat Rif’ah agar kembali ke posisi berdiri. Ia kemudian membelai wajah ayu Rif’ah yang kini telah basah oleh cairan kenikmatan miliknya, dan mengarahkan lendir-lendir tersebut ke mulut Rif’ah. Dengan terpaksa, Rif’ah pun menelan lendir tersebut sambil menempelkan tubuhnya ke dinding kamar mandi.

“Ayo telan semua sayang, biar kamu awet muda dan tetap cantik.” Ujar Yanto sambil menyeringai penuh nafsu. Di bawah, kontolnya tampak masih berkedut-kedut mengeluarkan sisa-sisa sperma yang kemudian terjatuh ke lantai kamar mandi. Yanto pun kembali merangkul leher Rif’ah bagaikan kekasihnya sendiri, dan mencium bibir Rif’ah yang telah belepotan sperma. “Untuk hari ini kita cukupkan dahulu ya cantik, abang harus kembali ke kantor karena sudah ditunggu Ummu Nida.”

Yanto kemudian berbalik ke arah Abu Nida yang sepertinya juga baru saja orgasme melihat pergumulan Yanto dan Rif’ah. Terlihat ceceran lendir yang kental di bawah kloset tempat Abu Nida duduk. “Dan Abu Nida, jangan coba-coba menahan Rif’ah dariku kalau kamu tidak mau perselingkuhan kalian diketahui oleh Ummu Nida, jelas?” Ujar Yanto sambil membersihkan penisnya dari sisa sperma dan menaikkan kembali celana panjangnya. Abu Nida pun menganggukkan kepalanya.

Sambil bersiul penuh kemenangan, Yanto pun meninggalkan kamar mandi tersebut beserta sepasang lelaki dan perempuan yang ada di dalamnya. Rif’ah dan Abu Nida tampak saling berpandangan tanpa berkata-kata. Mereka tahu kalau mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk menahan keinginan Yanto. Sementara Yanto masih tetap tersenyum saat kembali menyalakan motor dan mengarahkannya ke kantor DPD.

Pencarian terkait:

rifah 13, komik hentai pengemis, balada Rif\ah 13, balada rifah part 13, balada rifah akhwat partai 15, Nomor hp rina mulyani, kamar cerita balada rifah part 13, cerita seks rifah 13, balada rifa, balada rif\ah
Uncategorized