Aku Menjadi Target Bisnis Alex

‘KENAPA TIDAK DATANG? MAU NANTANGIN SAYA?’, begitu isi sms yang baru ku baca tadi pagi. Baru dua hari lalu aku dikerjai Alex. Dia minta aku kembali keesokan harinya lagi, tapi aku tidak ke sana, aku masih takut untuk menghadapi semua ini. Alex mungkin bakal marah sekali denganku, serba salah, apa aku harus mengorbankan tubuhku lagi? Atau aku harus mengorbankan keselamatan anakku, Chelsea?
***
Jam 13:00 aku berangkat menjemput Chelsea, seharusnya ia sudah pulang sekolah. Belakangan ini aku yang menjemput Chelsea, aku takut suamiku Herman bertemu Alex, dan resiko terlalu besar, Alex pasti masih dendam sekali dengan Herman. Dalam perjalanan aku masih kepikiran, semoga Chelsea tidak ketemu dengan Alex, aku takut ia akan menculiknya lagi.
***
“Ma, tadi ada oom kasih permen”, kata Chelsea sambil mengemut sebuah permen lolipop, ia menungguku pas di depan gerbang sekolah. Melihat itu aku sungguh kaget, jangan-jangan itu permen ada pemberian Alex. “Buang nak!”, aku merebut permennya lalu ku buang ke tanah. “Siapa yang kasih? Paman kemarin?”, tanyaku. “Bukan ma, oom gendut yang kasih”, jawab Chelsea dengan polos, namun matanya sedikit basah gara-gara perbuatanku tadi.
Tiba-tiba handphone ku berdering sebelum aku mengajak Chelsea naik ke mobil. “Hahahaha”, suara tertawa dari penelpon, kulihat panggilan dari nomernya Alex. “Mau apa kamu?!”, tanyaku, sepertinya Alex terus-terus saja mengintai kami. “Tanya Chelsea, permen tadi enak ga?”, Alex ternyata orang di balik pemberian permen itu, mungkin ia menyuruh temannya yang memberikannya pada Chelsea. “Permen itu ada racunnya loh”, ancam Alex yang sontak membuatku terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa. Seperti halilintar yang menyambar tubuhku, aku langsung ingin pingsan mendengar demikian.
“Hahaha, bercanda… Aku sebenarnya bisa melakukan lebih dari itu…”, lanjut Alex yang sedikit membuatku lega. “Kenapa kemarin ga datang?”, tanya Alex. “Aku sibuk!”, tegasku sedikit ketakutan. “Nanti ke sini ya, aku tidak main-main kali ini…”, Alex kembali mengancam. Aku segera menutup teleponku, aku ketakutan, apa Alex akan memperkosaku lagi? Betapa bejadnya orang itu. Aku terus berpikir apa aku harus lapor polisi atau enggak. “Kenapa ma?”, tanya Chelsea. Melihat Chelsea yang polos, aku pun tidak mau mengambil resiko, aku kemudian mengemudikan mobilku, aku akan bawa Chelsea pulang dulu baru menemui Alex.
***
“Chelsea tunggu di rumah ya, jangan lupa belajar, nanti papa pulang bilangin kalau mama pergi arisan ke rumah teman ya”, pesanku ke Chelsea setelah memandikannya. “Iya ma, jangan lama-lama ya”, balas Chelsea yang sedikit polos. “Iya, kan malam mama sudah janji mau bawa Chelsea jalan”, sambungku.
***
Penginapan Melati, tempat Alex tinggal, aku sudah sampai di tempat laknat ini, penginapan yang jorok dan penuh dengan PSK dan lelaki hidung belang. Memasuki tempat ini saja aku geli sekali karena beberapa pasang mata lelaki hidung belang itu menatapku seperti ingin menerkamku. “Aku ini bukan PSK!”, teriakku dalam hati. Beberapa pria malah bersiul pas aku melewatinya. Aku pun takut kenapa-kenapa, segera aku naik ke lantai dua dan menuju ke kamar Alex.
‘TOK TOK TOK’, aku mengetuk pintu, semoga saja Alex tidak di sini. Namun apa yang aku inginkan sirna, pintu terbuka dan Alex menyambutku dengan senyuman yang kegirangan. “Selamat datang gadis cantikku…”, salam Alex sambil mempersilahkanku masuk. Kakiku berat untuk memasuki ruangan kumal itu, seperti memasuki neraka saja. Alex langsung mengunci pintunya sambil berkata, “Hari ini kamu layani kawanku ya…”, kata Alex yang membuatku shock sekali, dan tiba-tiba pintu toiletnya terbuka, seorang pria tua dengan badan yang cukup gempal keluar dari sana dengan badan hanya terbalut handuk putih di bagian bawahnya.
“Wah, cantik sekali Lex, ini nih tipe aku banget”, kata pria gempal itu kepada Alex. Melihatnya aku langsung lemah, apa aku dijual Alex kepada pria ini. “Baguskan? Sudah kubilang, ga rugi kamu percayakan ke saya”, jawab Alex sambil menghitung uang yang diberikan pria itu. “Iya, anaknya saja cantik, apalagi ibunya ya… Hahahaha..”, pria itu tertawa terbahak-bahak sepertinya sangat senang sekali. “Jangan-jangan, kamu ya yang kasih permen?”, aku marah kepada pria gempal itu. Alex dan pria itu tidak mau jawab, mereka hanya senyum cengar-cengir saja.
“Sudah, jangan banyak omong, cepat lakukan tugasmu…”, perintah Alex yang mendorongku jatuh ke kasur kumal. Aku tidak bisa buat apa-apa, aku hanya seperti boneka seks yang dipermainkan oleh Alex. “Pakai saja sepuasmu”, kata Alex ke pria itu, lalu Alex duduk di sudut sambil menyalakan rokok kemudian menghidupkan televisi.
***
“Yuhuuu…. Ayo kita bercinta… Cantiikkkk…”, kata pria gemuk itu sambil menghampiriku. Aku tidak bisa melawan, pria itu kemudian mencoba lepaskan semua pakaianku. “Jangan khawatir sayang, saya ga akan kasar sama perempuan secantik kamu…”, lanjut si gendut itu. “Aku mohon belas kasihanmu…”, pinta ku. “Jangan memelas, entar gairah kasarku muncul loh say”, kata si gendut memintaku untuk tidak menolaknya. Pakaianku segera dilepasnya, bajuku dibuka, celanaku pun ditarik ke bawah, hingga aku hanya menggunakan bra dan celana dalam saja. “Wah, putih dan mulus kulitmu, hmm, benar-benar namamu bukan saja mirip artis, tapi tubuhmu indah bak seorang artis”, puji si gendut yang langsung memeluk tubuhku.
Badannya besar sekali, pelukannya cukup erat, tubuhnya basah sepertinya tadi barusan dia selesai mandi. Aku merasakan penisnya mengeras di balik handuknya, dia tidak menggunakan celana dalam. Alex hanya diam sambil menonton tv, sepertinya ia tidak tertarik dengan keadaan kami. “Harum banget…”, si gendut itu dengan penuh perasaan menciumi bau harum tubuhku.
Kulihat wajah pria gendut itu, benar-benar tersirat sifat mesumnya dari pancaran wajahnya, pria ini hidung belang. Aku takut sekali dengan wajahnya yang begitu bejad, “Tolong, aku bukan PSK, aku wanita baik-baik, aku punya keluarga..”, aku masih mencoba memelas. “Tenang…”, kata si gendut itu sambil membelai rambutku, lalu ia menciumi kening dan lalu pipi ku. “Aku sudah tahu, makanya aku tidak mau kasar…”, lanjut si gendut lalu kemudian ia menciumi bibirku. Aku menutup rapat bibirku, aku merasa geli kalau bukan suamiku sendiri yang menciumiku, namun si gendut ini terus memaksa, ia menggigit kecil ujung bibirku, dijilatinya dan disedotnya. Terasa sekali air liurnya masuk ke sela-sela gigi ku.
***
Puas menciumi bibir ku, ia pun mulai bergerilia di leherku, kemudian tak lupa dicupangnya dengan ker, “AH, Jangan!!”, teriakku mencoba menolak cupangannya. “Ini tanda sayangku padamu, tidak begitu jelas kok, suamimu ga bakal curiga”, kata pria gendut itu yang kemudian puas menyupang leherku. Ia kemudian membuka pengait bra ku, “Susu segar… susu segar…”, olok pria itu. “Wow, putih sekali”, kata pria gendut itu setelah berhasil membuka bra ku. “Tak sabar e mau cicipi susu segar begini”, ia pun langsung melumat susu ku, tanpa ampun langsung disedotnya bergantian kiri dan kanan. Ia pun meremas-remasnya, memilin-milin putingku, lalu ia menyedotinya kembali. Aku hanya bisa berdiam membiarkan pria ini menikmatiku, nasib malang ini semoga cepat berlalu.
***
Cukup lama ia menciumi susu ku, ia pun kemudian bangkit dan melepas handuknya. Penisnya tidak begitu besar, namun sudah mengeras sedari tadi. Ia kemudian berganti posisi, bertolak belakang denganku alias biasanya disebut gaya enam sembilan. Penisnya di arahkan ke muka ku, ia menginginkan aku untuk menyepong penisnya itu. Bulu jembutnya cukup tebal, penisnya mengeras dan nampak urat-uratnya, sedikit geli aku harus menyepong penis pria lain.
Di arah pahaku, terasa pria ini sudah menarik turun celana dalam ku, ia kini sedang membelai-belai jembutku dengan tangannya. Lalu sangat terasa ia membuka vaginaku dengan ke dua jarinya. “Arghhh… Gelliiiiii…. “, teriakku sontak membuat Alex sedikit melirik ke arah kami. Pria gendut ini telah menjilati vaginaku, “Ah, geliii…”, aku tak tahan merasakan geli di bagian vaginaku, sepertinya pria gendut ini tau di mana letak sensitif di vaginaku, ia terus memainkannya dengan lidahnya. Aku tidak tahan. “Sedot penisku dong say”, perintah si gendut sambil ia menggerak-gerakkan bokongnya sehingga penisnya bergerak-gerak di wajahku.
“Gitu dong…”, lanjutnya ketika aku mematuhi perintahnya dengan masukkan penisnya ke dalam mulutku. Aku hanya bisa menahan rasa geli di tengah selangkanganku, bergejolak sekali di bawah sana, aku menjadi tidak begitu bisa menyepong penisnya gara-gara rasa geli itu. “Gel… gell.. geliii…”, aku susah merintih akibat penisnya masih menyumbat mulutku.
***
Tiba-tiba pria itu menghentikan jilatannya, ia mulai memainkan vaginaku dengan jari jemarinya, menggosok-gosoknya lalu ia tusukkan ke dalam, “Argh!”, desahku. Pria gendut itu mulai mengobok-ngobok vaginaku dengan jarinya, tidak begitu geli namun membuatku sedikit terangsang. Jarinya keluar masuk dan terus seperti meliuk-liuk menenerobos keluar masuk vaginaku. Bokongnya dinaik turunkan agar aku bisa mengocok penisnya. Beberapa menit ia mengocok vaginaku hingga aku terbawa ke alam kenikmatan, terasa vaginaku bergejolak, dan sesuatu terjadi di dalam sana, air nikmat mulai memenuhi liang vaginaku, aku rasa aku sudah mencapai klimaks, aku mengeluarkan air hangat, lalu pria itu segera menjilatinya, “Arh…”, nikmat sekali.
Pria itu tidak membiarkan ku beristirahat sebentar, setelah menjilati cairan itu, aku merasakan ia kembali menusukkan jarinya ke vaginaku, ia mulai mengocoknya kembali, kali ini lebih licin, terasa mudah sekali ia memasuk keluarkan jarinya. Terdengar suara air juga seperti ‘jeb jeb jeb’ gitu. Ketika ia capek, ia pun mengganti posisi tangannya, dari yang kiri kemudian menggunakan yang kanan, lalu kembali ke yang kiri. Kocokannya membuatku sekali lagi mencapai klimak, sedikit cairan aku semprotkan lagi dari dalam vaginaku. “Ahhhhh….”, rintihku setelah menghentikan sepongan.
***
“Pemanasan selesai”, kata pria itu kemudian bangkit sehingga penisnya ‘bleps’ lepas dari sedotan bibirku. Ia kemudian berdiri di lantai dan mengenakan sebuah kondom, ia pu kemudian menarik kaki ku hingga badanku mendekati ujung kasur, kaki ku menjuntai ke bawah hampir menyentuh lantai. Pria gendut itu langsung membuka kaki ku dan mengarahkan penisnya ke vaginaku. “Blepsss’ suara yang terdengar ketika penisnya masuk ke vaginaku yang sudah cukup basah. “Arghh…”, rintihku ketika pria itu mulai menggenjotiku, aku tidak mau banyak bicara, ini semua bukan mauku. Alex hanya sebentar-sebentar melirik kearahku, semoga saja ia tidak terangsang, bisa lelah bagiku kalau Alex ikut minta jatah setelah pria gendut ini selesai.
“Aku sayang kamu… Aman kok main sama saya”, kata pria gendut itu. “Semoga lain kali, kita masih punya kesempatan begini ya”, lanjutnya yang sedikit membuat ku geli mendengarnya. Ia terus menggenjotiku, sebentar-bentar ia membungkukkan badannya untuk menggapai tubuhku, ia melumat bibirku lalu melumat susuku. “Saya kasih tanda cinta lagi ya”, CUP keras sekali ia menyupang susu ku pas di sisi putingku. Astaga, ku intip sedikit ternyata bekasnya memerah, sialn bagaimana kalau ketahuan suamiku. Jantungku berdebar kencang, masalah yang menimbulkan masalah, seharusnya ini tidak terjadi.
Pria itu masih menggenjotiku, susuku pun tidak lepas dari cengkramannya, ia pilin dan ia sedoti putingnya, geli-geli terasa. Tidak lama kemudian pria itu seperti mengejang, nampaknya ia akan berejakulasi, syukurlah, derita ini pun akan segera berlalu. “Ah, nikmatnyaaa……”, rintih panjang pria itu dengan menyemprotkan sperma nya di dalam vaginaku dalam balutan kondomnya.
***
“Hebat lex, lain kali aku pakai lagi ya”, kata si gendut kepada Alex, “Gampang lah”, jawab Alex yang kemudian bangkit. Pria gendut itu kemudian mengenakan pakaiannya kembali, aku hanya terbaring kaku, sedikit menarik nafas dan mengistirahatkan diri dari kelelahan. “Ini tips buat lu”, kata pria gendut itu melemparkan beberapa lembar uang lima puluh ribu ke arahku yang masih bugil, lalu pria itu pun keluar dari kamar.
Alex kemudian mendekatiku, “Tolong, aku sudah capek…”, aku memelas karena takut Alex akan menyetubuhiku. “Kamu sekarang lahan bisnisku, aku tidak akan menyakitimu kok asal kamu menurut padaku”, kata Alex kemudian duduk di sampingku. Ia pun membelai tubuhku, “Cantik sekali, andai dulu kamu mau menikah denganku…”, kata Alex lalu ia menyedoti susuku. “Lex, aku capek..”, kataku.
Selesai menikmati susuku, alex pun bangkit, ia sepertinya tidak tertarik menyetubuhiku. “Kamu harus menurut padaku!”, kata Alex. “Sekali saja kamu melanggar, jangan pikir aku akan melepas keluargamu!”, ancam Alex. Aku takut sekali, rasa capek ku hilang, aku segera bangkit dan memungut bajuku, aku langsung berpakaian kembali, dan segera meninggalkan kamar laknat ini.

TAMAT

Pencarian terkait:

nenen binor gemuk, stw gemuk bdg, bokep janda gendut, foto binor gendut, borwap arab, toge gendut, www cewekmanja com, bokep jilbab gendut, foto janda stw gemuk, bokep germo
Uncategorized